Powered By Blogger

quinta-feira, 18 de abril de 2024

TUJUH CONTOH KEDAULATAN TUHAN DALAM KITAB SUCI

 7 Contoh Kedaulatan Tuhan

Kedaulatan Tuhan adalah tema mendasar dalam teologi Kristen dan sebuah konsep yang secara intrinsik terkait dengan keyakinan dan praktik keagamaan. Di seluruh Alkitab, kita menemukan banyak contoh yang menggambarkan kendali mutlak dan otoritas tertinggi Allah atas segala sesuatu. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi tujuh contoh kedaulatan Allah yang mengajak kita untuk percaya pada rencana ilahi-Nya dan tunduk pada kehendak-Nya dalam segala bidang kehidupan kita.

1. Penciptaan Alam Semesta: Kuasa Penciptaan Tuhan

Dalam Kejadian 1:1, kita membaca kata-kata yang menandai permulaan Alkitab dan seluruh ciptaan: "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Ayat ini menunjukkan kepada kita tindakan tertinggi kedaulatan Tuhan dalam mewujudkan segala sesuatu yang kita ketahui dan segala sesuatu di luar pemahaman kita. Sejak awal penciptaan, Tuhan menetapkan otoritas-Nya sebagai Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu, menunjukkan kekuasaan-Nya yang tak terbatas atas alam semesta dan segala isinya.

Dalam Mazmur 33:6 dinyatakan: "Dengan firman Tuhan langit telah dijadikan dan seluruh penghuninya melalui nafas mulutnya." Pernyataan ini menggarisbawahi gagasan bahwa ciptaan itu sendiri menaati kehendak Allah dan bahwa firman-Nya cukup untuk memberi kehidupan pada segala sesuatu. Penciptaan alam semesta adalah contoh tertinggi kedaulatan Tuhan, yang menetapkan landasan otoritas dan kekuasaan-Nya atas seluruh keberadaan.

2. Eksodus Israel dari Mesir: Pembebasan dan Penyelenggaraan Ilahi

Dalam kitab Keluaran, kita menyaksikan campur tangan Allah yang penuh kuasa dalam pembebasan Israel dari perbudakan di Mesir. Sepanjang narasi ini, kita melihat bagaimana Tuhan melaksanakan rencana kedaulatan-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Dalam Keluaran 14:21, kita membaca tentang mukjizat penyeberangan Laut Merah: "Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan TUHAN membuat laut surut karena angin timur yang kencang sepanjang malam itu." Peristiwa ini jelas menunjukkan campur tangan ilahi dan kendali mutlak Tuhan atas kekuatan alam untuk memenuhi tujuan kedaulatan-Nya.

Dalam Keluaran 3:8, Allah menyatakan niatnya untuk membebaskan Israel dari penindasan di Mesir, dengan mengatakan: “Dan Aku datang untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir, dan untuk membawa mereka keluar dari negeri itu ke tempat yang baik dan luas. negeri, ke negeri yang mengalirkan susu dan madu. Janji ini mengungkapkan pemeliharaan ilahi dan komitmen Allah untuk memenuhi tujuan kedaulatan-Nya bagi umat-Nya. Eksodus Israel dari Mesir adalah contoh yang kuat tentang bagaimana Allah mengarahkan peristiwa-peristiwa sejarah sesuai dengan kehendak ilahi-Nya.

3. Pemerintahan Daud: Rancangan Ilahi dan Tujuan Kekal

Pemerintahan Daud di Israel adalah contoh luar biasa lainnya mengenai kedaulatan Allah dalam memilih dan meninggikan para pemimpin. Meskipun keadaan buruk dan tentangan dari musuh-musuhnya, Daud diurapi sebagai raja Israel sesuai dengan rencana ilahi Allah. Dalam 1 Samuel 16:12-13, kita melihat bagaimana Tuhan memilih Daud sebagai raja, meskipun dia bukanlah calon yang jelas di mata manusia: “Dan dia mengutus, dan membawanya. Dan dia berambut pirang, cantik matanya, dan tampan. Lalu TUHAN berfirman, Bangunlah dan urapilah dia; karena ini dia. Pilihan ilahi ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja berdasarkan kedaulatan dan pengetahuan-Nya yang sempurna, bahkan ketika pilihan-pilihan-Nya tampak mengejutkan bagi kita.

Dalam 2 Samuel 7:8, Allah berjanji kepada Daud untuk meneguhkan garis keturunannya selama-lamanya: “Maka sekarang engkau harus berkata kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku mengambil engkau dari kandang domba, dari belakang domba-domba, supaya kamu menjadi pangeran atas umat-Ku, atas Israel. Janji ini mengungkapkan rancangan ilahi di balik pemerintahan Daud dan menunjuk pada penggenapan kedaulatan Allah dalam pendirian kerajaan mesianis.

4. Kelahiran Yesus: Penggenapan Nubuatan dan Rencana Ilahi

Kelahiran Yesus di Betlehem merupakan kesaksian menakjubkan akan kedaulatan Allah dalam sejarah umat manusia. Melalui nubuatan Perjanjian Lama dan campur tangan ilahi, Allah menghadirkan Putra-Nya ke dunia sebagai Juruselamat yang dijanjikan. Dalam Lukas 2:10-11, malaikat mengumumkan kelahiran Yesus kepada para gembala: “Tetapi malaikat itu berkata kepada mereka, Jangan takut; Sebab sesungguhnya aku menyampaikan kepadamu kabar gembira yang besar bagi seluruh bangsa: bahwa pada hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Tuhan menggenapi janji kedaulatan-Nya dan bekerja dalam sejarah untuk membawa keselamatan dan penebusan bagi dunia.

Dalam Yesaya 9:6, kita menemukan nubuatan tentang kelahiran Yesus: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang anak laki-laki telah diberikan kepada kita, dan pemerintahan ada di pundaknya; dan namanya akan disebut Ajaib, Penasihat, Tuhan Yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Pangeran Damai. Nubuat kuno ini menunjuk pada rencana ilahi Allah untuk mengutus Putra-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan, yang akan memerintah dengan otoritas ilahi atas umat-Nya. Kelahiran Yesus merupakan kesaksian yang mengharukan akan kedaulatan Allah dalam pelaksanaan rencana keselamatan kekal-Nya.

5. Pertobatan Paulus: Transformasi dan Tujuan Ilahi

Pertobatan Paulus dalam perjalanan menuju Damaskus adalah contoh yang kuat tentang kedaulatan Allah untuk mengubah hati dan mengarahkan kehidupan manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Meskipun ia adalah seorang penganiaya yang kejam terhadap umat Kristen, Paulus mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus yang secara radikal mengubah hidup dan misinya. Dalam Kisah Para Rasul 9:3-6, kita membaca tentang penampakan Yesus kepada Paulus di jalan menuju Damaskus: “Dan ketika Yesus sudah dekat ke Damaskus, tiba-tiba suatu cahaya terang dari surga mengelilingi dia; Dan sambil jatuh ke tanah, dia mendengar suara berkata kepadanya, “Saul, Saul, mengapa kamu menganiaya aku?” Peristiwa ini menunjukkan kedaulatan campur tangan Tuhan untuk mengubah jalan hidup Paulus dan memanggilnya menjadi rasul dan saksi Injil.

Dalam Galatia 1:15-16, Paulus bersaksi tentang panggilan ilahinya: “Tetapi apabila Allah berkenan, yang mengeluarkan aku dari kandungan ibuku, dan yang oleh kasih karunia-Nya telah memanggil aku, untuk menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku dapat memberitakan Injil di antara bangsa-bangsa lain, aku tidak langsung berkonsultasi dengan darah dan daging. Pernyataan ini mengungkapkan kedaulatan tangan Tuhan dalam pemilihan dan panggilan Paulus untuk menjadi alat di tangan-Nya. Pertobatan Paulus adalah contoh yang luar biasa tentang bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan manusia sesuai dengan tujuan ilahi dan kedaulatan-Nya.

6. Penyaliban dan Kebangkitan Yesus: Rencana Penebusan dan Kemenangan Atas Dosa

Penyaliban dan kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sentral dalam rencana penebusan Allah bagi umat manusia dan merupakan kesaksian tertinggi akan kedaulatan-Nya atas dosa dan kematian. Meskipun penyaliban Yesus nampaknya merupakan sebuah kekalahan, hal ini sebenarnya merupakan penggenapan rencana ilahi untuk mendamaikan umat manusia dengan dirinya sendiri. Dalam Kisah Para Rasul 2:23, Petrus menyatakan dalam khotbah Pentakosta: "Orang ini, yang diserahkan oleh ketetapan hati dan pengetahuan Allah sebelumnya, kamu tangkap dan bunuh di tangan orang-orang jahat, lalu kamu salibkan dia." Pernyataan ini menunjukkan bagaimana penyaliban Yesus merupakan hasil dari rencana kedaulatan Allah untuk penebusan dosa manusia.

Dalam 1 Korintus 15:3-4, Paulus merangkum arti kematian dan kebangkitan Yesus: “Sebab yang pertama-tama telah kuajarkan kepadamu adalah apa yang telah kuterima sendiri: bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci; dan bahwa dia dikuburkan, dan bahwa dia bangkit kembali pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kematian dan kebangkitan Yesus sebagai penggenapan Kitab Suci dan rencana kedaulatan Allah bagi keselamatan umat manusia. Penyaliban dan kebangkitan Yesus adalah kesaksian mulia akan kedaulatan Allah atas dosa dan kemenangan akhir atas maut.

7. Kedatangan Yesus Kedua Kali: Pengharapan dan Kesempurnaan Kerajaan Allah

Janji kedatangan Yesus kedua kali merupakan kesaksian kedaulatan Allah untuk memulihkan dan mewujudkan kerajaan-Nya di bumi. Meskipun kita tidak tahu kapan tepatnya kedatangannya kembali, kita percaya pada kesetiaan Tuhan untuk menggenapi firman-Nya sesuai dengan rencana ilahi-Nya. Dalam Matius 24:44, Yesus berkata, “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia; karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tidak kamu duga. Nasihat ini memanggil kita untuk terus-menerus menantikan dan mempersiapkan kedatangan-Nya, percaya pada kedaulatan Tuhan atas kejadian-kejadian di masa depan.

Dalam Penyingkapan 22:20, Yesus menyatakan: “Dia yang memberikan kesaksian tentang hal-hal ini berkata, ’Aku datang segera. Amin; ya, datanglah, Tuhan Yesus. Pernyataan terakhir dalam Alkitab ini mengingatkan kita akan janji pasti kedatangan Yesus kedua kali dan realisasi akhir rencana kedaulatan Allah untuk mendirikan kerajaan kekal-Nya. Kedatangan Yesus yang kedua kali merupakan penggenapan kedaulatan Allah dan harapan tertinggi bagi orang-orang percaya dari segala generasi.

Kesimpulan

Contoh kedaulatan Allah dalam Alkitab menantang kita untuk percaya pada rencana ilahi-Nya dan tunduk pada otoritas tertinggi-Nya dalam segala bidang kehidupan kita. Mulai dari penciptaan alam semesta hingga kedatangan Yesus yang kedua kali, kita melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam sejarah manusia sesuai dengan kedaulatan kehendak-Nya dan menggenapi tujuan kekal-Nya demi keselamatan dan penebusan umat-Nya. Saat kita merenungkan contoh-contoh ini, kita dapat menemukan kenyamanan dan keamanan dalam kenyataan bahwa Allah memegang kendali dan bahwa kasih serta kesetiaan-Nya bertahan selamanya. Semoga kita percaya pada kedaulatan Tuhan di tengah cobaan dan tantangan hidup, mengetahui bahwa rencana-Nya sempurna .


PATER FEBRI SAMAR

KONGREGASI SCALABRINIAN

BERTUGAS DI URUGUAY

WAKTU TUHAN MENURUT INJIL LUKAS 2:1-7

 Waktu Tuhan – Lukas 2:1-7

Pada masa itu, sebuah dekrit dikeluarkan oleh Augustus Caesar bahwa setiap orang harus didaftarkan. Sensus pertama ini dilakukan ketika Kirenius menjadi gubernur Siria. Dan mereka semua pergi untuk mendaftar, masing-masing ke kotanya. Dan Yusuf berangkat dari Galilea, dari kota Nazaret, ke Yudea, ke kota Daud, yang disebut Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keluarga Daud; untuk didaftarkan pada Maria isterinya, yang dijodohkan dengannya, yang sedang hamil. Dan terjadilah ketika mereka berada di sana, genaplah hari kelahirannya. Dan dia melahirkan anak laki-lakinya yang sulung, lalu membungkusnya dengan lampin, dan membaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di penginapan.

Lukas 2:1-7

Waktu Tuhan Itu Sempurna – Renungan Lukas 2:1-7

Dalam Injil yang ditulis oleh Lukas ini, penulis menceritakan sebuah peristiwa dalam sejarah dunia karena pembacanya sebagian besar adalah orang-orang Yunani yang masuk Kristen dan akrab dengan situasi politik saat itu.

Lukas menyoroti bagaimana Allah campur tangan dalam waktu, menggunakan gubernur Kekaisaran Romawi, Augustus Caesar, untuk melaksanakan janji yang diberikan oleh para nabi tentang Juruselamat Dunia.

Janji ini menyatakan bahwa di Betlehem akan lahir orang yang akan menjadi Tuan Israel (Mi 5:2). Oleh karena itu, dilakukan sensus oleh Gubernur Roma untuk memungut pajak dan setiap orang harus pergi ke kota asal keluarganya. Karena Yusuf merupakan keturunan Daud yang berasal dari kota Betlehem, maka dari itu ia harus menempuh perjalanan kurang lebih 120 kilometer dari kota Nazareth di Galilea menuju kota Betlehem.

Namun semua itu diarahkan oleh maksud Allah agar firman-Nya tergenap pada waktunya. Yang mengatakan bahwa dari keturunan Daud dan di Kota Betlehem akan lahir Juru Selamat Dunia (2Sam 7:12-13; Yes 16:5; Jr 23:5; Mat 1:1, 2:6; Luk 1 :69, 2:11).

Pada hari-hari itu dan pada waktu itu Aku akan menumbuhkan Tunas kebenaran pada Daud, dan dia akan melaksanakan penghakiman dan kebenaran di negeri itu.

Yeremia 33:15

Tetapi kamu, Betlehem Efrata, kecil di antara keluarga-keluarga Yehuda, darimu akan datang kepadaku yang akan menjadi Tuan di Israel; dan kepergiannya adalah dari awal, dari hari-hari kekekalan.

Mikha 5:2

Dengan cara yang sama Tuhan bekerja agar pada masanya terjadi peristiwa terpenting dalam sejarah umat manusia, yaitu Putra Tunggal-Nya lahir dari seorang perempuan perawan, menjalani kehidupan tanpa dosa, mati bagi dosa umat manusia dan akan dibangkitkan pada hari ketiga dengan tujuan kekal yaitu menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya (Yoh. 3:16). Beginilah cara Dia juga akan bekerja pada waktunya dalam hidup Anda, untuk melaksanakan rencana yang Dia miliki untuk Anda.

Namun ingatlah bahwa rencana Tuhan tidak seperti rencana manusia. Rencana Tuhan bersifat kekal, untuk membimbing Anda di jalan keselamatan atau menggunakan Anda sebagai wadah yang berguna agar orang lain mengenal Kristus melalui Anda.

Jika Tuhan memberi tahu Anda bahwa Anda akan memberitakan firman-Nya, bahwa Anda akan menjadi pelayan pujian atau bahwa anggota keluarga yang sangat Anda doakan akan Kristus dinyatakan kepadanya pada waktunya, maka Tuhan akan melakukannya. Namun terserah pada Anda untuk percaya, menaati Tuhan dan terus berjalan bersama Kristus.

Alkitab menunjukkan kepada kita banyak orang yang pada masanya melihat janji-janji Tuhan.

Salah satunya adalah Sara, ketika diberitahu bahwa ia akan menjadi seorang ibu di usianya yang sudah lanjut, waktunya telah terpenuhi dan ia melihat janji itu (Kej 17:21, 18:14, 21:2).

Ketika Daud diurapi menjadi raja, pada saat yang sama ia tidak memerintah Israel, namun pada masanya ia melihat janji itu (1Sam 16:1, 11-13; 2Sam 2:4).

Bahkan Cyrus, seorang raja Persia yang kepadanya Tuhan mewahyukan kepada nabi Yesaya 120 tahun sebelum ia dilahirkan, bahwa ia akan menggunakan dia untuk membawa orang-orang Israel kembali dari pembuangan, untuk membangun kembali Kota dan Bait Suci, ketika waktunya sudah habis ia melakukannya (Yes 44:26-28; Ezra 1:1-2; 2 Kro 36:22-23).

Sebagai penutup refleksi ini, saya hanya bisa mengatakan kepada Anda, percayalah kepada Tuhan, taat kepada-Nya, tunggu Dia, dan pada waktu-Nya Dia akan melakukannya.


PATER FEBRI SAMAR, CS

domingo, 31 de março de 2024

PESAN PASKAH UNTUK UMAT KATOLIK- REFLEKSI INJIL 2024 TAHUN B

 Pesan-pesan kehidupan: 1) Kita harus menjadi umat Kebangkitan: Paskah, hari raya Kebangkitan, memberi kita pesan sukacita bahwa kita adalah “umat Kebangkitan.” Ini berarti bahwa kita tidak seharusnya terkubur dalam kubur dosa-dosa kita, kebiasaan-kebiasaan jahat dan kecanduan-kecanduan yang berbahaya. Hal ini memberi kita Kabar Baik bahwa tidak ada lagi makam yang dapat menahan kita – baik makam keputusasaan, keputusasaan atau keraguan, maupun makam kematian. Sebaliknya, kita diharapkan menjalani kehidupan yang penuh sukacita dan damai, senantiasa mengalami kehadiran nyata Tuhan Yang Bangkit dalam segala peristiwa kehidupan kita. “Inilah hari yang dijadikan Tuhan; marilah kita bersukacita dan bergembira” (Mazmur 118:24).

2) Kita perlu mencari kedamaian dan sukacita kita dalam Yesus yang Bangkit: Kehadiran Tuhan Yang Bangkit memberi kita kedamaian abadi dan sukacita surgawi dalam menghadapi kebosanan, penderitaan, kesakitan dan ketegangan dalam kehidupan kita sehari-hari. "Kedamaian selalu bersamamu!" adalah salam-Nya kepada murid-murid-Nya pada semua penampakan pasca Kebangkitan. Bagi umat Kristiani sejati, setiap hari harus menjadi Hari Paskah, dijalani dengan penuh sukacita bersama dengan Tuhan Yang Bangkit. 3) Kita harus menjadi orang Kristen yang transparan: Kita dipanggil untuk menjadi orang Kristen yang transparan, menunjukkan kepada orang lain, melalui kehidupan kita yang penuh cinta, belas kasihan, kasih sayang dan pelayanan yang rela berkorban, bahwa Yesus yang Bangkit hidup di dalam hati kita. 4) Kita perlu menjalani kehidupan yang baru dan berdisiplin dalam Yesus yang Bangkit: Kesadaran kita akan kehadiran Tuhan Yang Bangkit yang meliputi segalanya dan penuh kasih di dalam dan di sekitar kita, dan keyakinan kuat akan kebangkitan kita yang akan datang, membantu kita mengendalikan pikiran kita, keinginan, perkataan, dan perilaku. Pemikiran yang bermanfaat ini mengilhami kita untuk menghormati tubuh kita, menjaganya tetap suci, murni dan bebas dari kebiasaan jahat dan kecanduan. Keyakinan kita bahwa Tuhan Yang Bangkit hadir dalam diri sesama kita dan pada semua orang yang kita jumpai hendaknya mendorong kita untuk menghormati mereka, dan memberikan pelayanan yang penuh kasih, rendah hati, dan tanpa pamrih kepada mereka. 5) Kita perlu mengingat Paskah pada hari Jumat Agung kita: Paskah mengingatkan kita bahwa setiap Jumat Agung dalam hidup kita akan memiliki hari Minggu Paskah dan bahwa Yesus akan membiarkan kita berbagi kuasa Kebangkitan-Nya. Setiap kali kita memperlihatkan kasih kita terhadap orang lain, kita ikut serta dalam Kebangkitan. Setiap kali kita menghadapi pengkhianatan terhadap kepercayaan, kita ambil bagian dalam Kebangkitan Yesus. Setiap kali kita gagal dalam upaya kita untuk menolak godaan – namun tetap berusaha mengatasinya – kita ikut serta dalam Kebangkitan. Setiap kali kita terus berharap – bahkan ketika harapan kita tampaknya tidak terjawab – kita ikut ambil bagian dalam kuasa Kebangkitan Yesus. Singkatnya, pesan Paskah adalah bahwa tidak ada apa pun yang dapat menghancurkan kita – baik rasa sakit, dosa, penolakan atau kematian – karena Kristus telah mengalahkan semua ini, dan kita juga dapat menaklukkannya jika kita beriman kepada-Nya. 6) Kita harus menjadi pembawa kuasa Kabar Baik tentang Kebangkitan. Kebangkitan adalah Kabar Baik, namun pada saat yang sama, terkadang menyakitkan karena melibatkan kematian. Sebelum kuasa Kebangkitan dapat mengambil alih kehidupan kita, kita dipanggil untuk mati terhadap dosa, mati terhadap diri sendiri. Kita bahkan mungkin harus mati terhadap impian kita sendiri, agar Tuhan dapat melakukan apa yang Dia ingin lakukan dalam hidup kita. Kebangkitan adalah tentang melihat dunia kita dengan cara yang baru. Dini hari Paskah itu, Maria Magdalena tidak menemukan apa yang dicarinya, yaitu mayat Yesus. Namun dia menemukan sesuatu yang lebih baik dari yang dia bayangkan: Yesus yang Bangkit. Terkadang, hal-hal yang kita pikir paling kita inginkan tidak diberikan kepada kita. Yang kami dapatkan adalah pengalaman tentang cara-cara baru Tuhan bekerja di dunia. Itulah kekuatan Kebangkitan. Ketika saat-saat itu tiba, kita harus menyebarkan beritanya--seperti yang dilakukan Maria Magdalena: Kita telah melihat Tuhan! 7) Kita perlu menjadi umat Paskah (Fr. V. Kizhakevely): Kita sebenarnya dipanggil untuk menjadi “umat Paskah”, karena ada banyak momen Paskah dalam hidup kita. Boleh jadi dalam doa, ketika kita sejenak benar-benar merasakan kasih Tuhan, apalagi pernah merasakan ketidakhadiran-Nya, seperti yang sering kita lakukan seperti para murid yang mengalami kehampaan kubur. Itu mungkin merupakan momen ketika kita tersentuh dan diberi pengharapan oleh firman tulisan suci – seperti para murid dalam perjalanan menuju Emaus ketika hati mereka terangkat dalam sukacita dan pengharapan ketika Tuhan membukakan tulisan suci kepada mereka. Atau bisa juga pada saat sakramen rekonsiliasi, setelah kita dengan jujur mengakui kelemahan dan keegoisan kita, keberdosaan kita dan mengalami pengampunan-Nya. Memang benar, ada saat-saat dalam hidup kita ketika kita mengetahui, melalui iman, bahwa saat-saat tenang setelah badai, saat-saat suka cita setelah dukacita, saat-saat pemulihan vitalitas setelah hari-hari yang melelahkan dalam perjalanan iman kita, adalah saat-saat yang sesungguhnya ketika kita mengambil bagian dalam Paskah-Nya.

PATER FEBRI SAMAR, CS

quinta-feira, 21 de março de 2024

Komentar Injil hari ini Kamis 21 Maret 2024

 PATER FEBRI SAMAR, CS


Injil hari ini mengalami banyak perubahan namun pada akhirnya yang dipertaruhkan adalah pengetahuan akan Tuhan. Atau lebih tepatnya, gambaran atau gagasan yang kita miliki tentang Tuhan. Orang-orang Yahudi sudah mempunyai gagasan tentang Tuhan. Mereka mengkodifikasikannya, mengungkapkannya dan menjelaskannya dalam kitab suci mereka, yang sekarang kita kenal sebagai Perjanjian Lama, dan dalam komentar para ahli, Talmud. Ada segala hal yang perlu diketahui oleh seorang Yahudi yang baik.

Kita juga sudah mempunyai serangkaian gagasan yang terbentuk sebelumnya tentang siapa Tuhan itu. Baru kemarin saya mendengarkan seseorang di radio berbicara tentang bagaimana Tuhanlah yang mengendalikan semua tindakan kita dan mengancam kita dengan sanksi yang sesuai jika kita tidak mematuhi aturan-aturannya. Nampaknya yang penting bukanlah bahwa norma-norma tersebut kurang lebih masuk akal, melainkan bahwa norma-norma tersebut diperintahkan, ditetapkan oleh Tuhan. Masalah dengan gambaran Tuhan ini adalah bahwa norma-norma dikaitkan dengan Tuhan yang di banyak rumah merupakan produk tradisi atau budaya.

Yesus menjauhkan diri dari semua itu. Dia mengenal Tuhan, dia memiliki pengalaman yang mendalam dan unik tentang Tuhan. Dia memanggilnya Ayah. Dan dia menjadikan cara Tuhan untuk hadir dalam cara dia bersikap dan berbicara. Dalam kedekatannya dengan masyarakat miskin, marginal, dan pendosa. Dan dalam kritik mereka terhadap orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan para imam, mereka merasa tidak hanya sebagai wakil dari agama resmi Yahudi tetapi juga pemiliknya. Merekalah yang tahu, mereka yang mengerti. Sisanya adalah orang-orang bodoh yang perlu diajar dan digembalakan seperti domba.

Yesus memutuskan hubungan dengan perwakilan resmi tersebut. Dia tidak menginginkan budak yang taat, murid yang rajin, tetapi pengikut: pria dan wanita yang dengan bebas mengikutinya dan menjadikan cinta Tuhan yang universal dan tanpa syarat kepada semua makhluk-Nya yang hadir di dunia, dengan perkataan dan perbuatan mereka. Mengikuti jalan Yesus memiliki resikonya tetapi itu adalah syarat untuk sepenuhnya mewujudkan anugerah kebebasan yang telah diberikan kepada kita dan kehidupan yang telah diberikan kepada kita sebagai anugerah dan anugerah. Jelaslah bahwa orang-orang Yahudi yang disebutkan dalam Injil tidak memahami apa pun. Dan kita?

domingo, 28 de janeiro de 2024

RENUNGAN MINGGU KE EMPAT MASA BIASA TAHUN B

 OLEH PATER FEBRI SAMAR


TUHAN ADALAH KEBEBASAN DALAM KEPENUHAN DAN HIDUP YANG BERLIMPAH

Liturgi hari Minggu ini mengungkapkan kepada kita bahwa Tuhan tidak menerima tindakan dan sikap egoisme dan kematian yang mencederai harkat dan martabat serta memperbudak umat manusia. Tindakan penebusan Yesus menunjukkan bahwa Dia datang menemui kita untuk mengusulkan jalan kebebasan dan kehidupan yang utuh.

Bacaan pertama (Ulangan 18:15-20) mengajak kita, bermula dari panggilan Musa, untuk merenungkan menjadi seorang nabi. Teks tersebut memiliki kontur "perjanjian spiritual", karena merupakan kutipan dari pidato terakhir Musa, yang diadakan di dataran Moab sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Musa merasakan kematiannya dan mulai mempersiapkan para pemimpin untuk memimpin umat pilihan di jalan Tuhan. Dengan cara ini, kita dihadapkan pada salah satu poin mendasar dari struktur organisasi Israel: kenabian. Nabi adalah seseorang yang dipilih, dipanggil, dan diutus Allah untuk mewartakan “Firman”-Nya yang hidup kepada umat manusia. Nabi sejati tidak menyampaikan pesan pribadi atau kata-kata yang menyenangkan hati umat. Landasan panggilan kita adalah kesetiaan pada kehendak Tuhan. Nabi adalah orang yang berani menghadapi kenyataan yang memperbudak dan menyebabkan kematian. Ia harus dengan setia menyaksikan usulan Tuhan bagi manusia dan dunia. Misi kenabian harus selalu melayani Tuhan, rencana Tuhan, kebenaran Tuhan, dan tidak melayani rencana pribadi atau pandangan egois, karena egois yang menyebabkan kehancuran dan penderitaan di dunia.
Oleh karena itu, dalam bacaan kedua (1 Korintus 7:32-35), Santo Paulus mengajak umat Kristiani untuk memikirkan kembali prioritas-prioritas penting mereka agar tidak membiarkan kenyataan yang berlalu menghalangi mereka untuk menghayati komitmen sejati mereka dalam melayani Tuhan dan saudara-saudara mereka. Namun dalam perikop yang kita renungkan ini, perlu ditegaskan bahwa ini bukan tentang penolakan Rasul terhadap pernikahan; Paulus tidak pernah menyatakan bahwa pernikahan adalah kenyataan buruk atau cara untuk menghindarinya. Bagi Pablo, pernikahan adalah kenyataan yang penting. Pertimbangkan bahwa baik pernikahan maupun selibat adalah anugerah dari Allah (lih. 1 Kor 7:7). Bagi Rasul, yang lebih penting dari mengutamakan selibat dan pernikahan adalah hidup dengan hati yang sepenuhnya kembali pada kehendak Tuhan. Hal yang penting untuk menjadi seorang Kristen bukanlah hidup selibat atau menikah, namun mencintai dan melayani Kristus secara nyata. Pembelaan Paulus yang tajam terhadap selibat harus dilihat sebagai prioritas terhadap kebebasan yang membuat kita lebih siap untuk menabur benih Kerajaan.
Injil hari ini (Mrk 1:21-28), seperti minggu-minggu sebelumnya, masih memperkenalkan kita pada tindakan awal misi Yesus. Inilah peristiwa-peristiwa pertama yang mulai menampakkan diri mereka sebagai Mesias dan jalan keselamatan. Dengan Firman-Nya dan tindakan-Nya, Yesus Kristus memulihkan martabat, memperbaharui kehidupan dan mentransformasikan menjadi manusia bebas semua orang yang hidup dalam tahanan keegoisan, dosa dan kematian.
Seperti yang kita lihat dalam bacaan pertama, panggilan kenabian didasarkan pada kesetiaan kepada Sabda dan kehendak Allah. Para pemimpin agama pada zaman Yesus sering memanipulasi Firman untuk mendominasi hati nurani manusia dan mempertahankan kekuasaan. Kenyataan ini tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang kita alami saat ini, di mana banyak pemimpin lebih mementingkan promosi diri daripada mewartakan Injil, namun terburu-buru menjual produknya daripada berbicara tentang Yesus Kristus dan memimpin domba-dombanya untuk bertemu dengan-Nya. Yesus tidak menyia-nyiakan waktu dengan retorika kosong yang menyenangkan ego dan telinga, namun mengeringkan hati. Kekuasaan yang dikagumi dengan takjub pada Yesus adalah buah dari pengalaman keintimannya dengan Allah Bapa. Cara bertuturnya sebagai modus adalah bebas, tulus, runtut, dan penuh kasih sayang. Perkataan-Nya mempunyai otoritas di hati manusia karena disertai dengan tindakan nyata yang merupakan penggenapan dari apa yang diberitakan Yesus. Dia menjalani apa yang dia ajarkan dan mengajarkan apa yang dia jalani.
Dalam perspektif alkitabiah dan pada zaman Yesus, "roh-roh jahat" yang mendominasi atau merasuki seseorang memiliki kekuatan absolut yang tidak dapat diatasi oleh manusia sendirian dan dengan kekuatan lemah mereka. Oleh karena itu, diyakini bahwa hanya Tuhan, dengan kekuasaan dan otoritas absolutnya, yang mampu mengalahkan "roh jahat" dan memulihkan nyawa dan kebebasan yang hilang. Meski contohnya mengacu pada orang yang kerasukan, namun bagi Markus, tindakan pembebasan Yesus dilakukan terhadap setiap kenyataan yang memperbudak manusia dan ini tidak hanya mencakup kerasukan roh jahat, tetapi juga kenyataan nyata seperti gosip, penghakiman. kesalahan orang lain, korupsi, keserakahan, puritanisme, kepalsuan, percabulan, dll.
Saya ulangi: penginjil menyajikan realitas melalui gambaran roh yang tidak murni. Namun, yang dicerminkan bukan hanya kemungkinan dominasi pengaruh setan secara langsung, melainkan tindakan manusia apa pun yang merampas hak-hak utama orang lain seperti perdamaian, kesehatan, pangan, dan martabat. Oleh karena itu, kami mempunyai misi yang sama dengan Yesus Kristus. Meskipun ada kesalahpahaman dan intoleransi yang menjadi korbannya, murid-murid Yesus tidak boleh mengurung diri di sakristi, mengabaikan penderitaan, atau tunduk pada dominasi orang jahat. Namun mereka harus menjalankan tugas misionaris mereka dengan keberanian, visibilitas dan konkrit dalam transformasi realitas politik, ekonomi, sosial dan keluarga.

MONTEVIDEO, 27 JANUARI 2024